MENGABADIKAN KENANGAN

Islam, Cinta, Sejarah dan Sastra

Ziarah dan Petuah Jodoh

Ini keempat kalinya aku pergi ke Masjid Sayyidah Nafisah dalam sebulan. Tempat yang punya suasana khusus di hatiku, tempat yang selalu memberikan kedamaian.


Namun, sebenarnya bukan hanya suasananya yang bikin kangen. Tapi kehadiran seorang kakek paruh baya yang tiba-tiba memanggilku dengan, “Ya ‘aris” (hei pengantin baru)


Aku berkali-kali bilang bahwa aku belum menikah, tapi si kakek tetap saja memanggilku ‘aris’, ah, yasudah, aku akhirnya mengalah. Aku terima saja panggilan itu, siapa tahu si kakek sedang melihat masa depan. Barangkali si kakek sedang mengajariku majaz mursal; mengucapkan yang belum terjadi tapi maksudnya adalah hal yang akan dekat terjadi.


Perkenalan kami begitu cepat dan singkat, seperti tabiat orang Mesir kalau sudah kenal, maka seakan-akan sudah menjadi saudaranya, diajak bicara ke mana-mana.


“Kamu dari mana, Nak?”

“Dari Kalimantan, Kek, eh, Indonesia”

“Belajar di Al-Azhar?”

“Tentu saja, Kek. Kalau tidak, mana bisa saya berziarah ke tempat ini. Kakek sendiri dari mana?”

“Saya dari Suhaq. Mesir bagian selatan, sudah pernah ke sana?”

“Sudah sering diajak ke sana, Kek, tapi belum berani ikut… hehe”

“Suhaq dan selatan Mesir itu negeri yang damai, penduduknya sangat mencintai Rasulullah dan Ahlu bait, setiap bulan selalu ada majelis salawat.”


Kakek menggambarkan negeri yang nampaknya sangat ia cintai, aku tenang mendengar tuturnya yang sejuk.

“Makanya hampir setiap minggu selalu ada orang selatan Mesir yang berziarah ke makam Sayyidah Nafisah, bagi kami Sayyidah Nafisah adalah oase di tengah gersangnya gurun pasir, ia tabib yang menyembuhkan penyakit lahir maupun batin, sebagaimana ketika beliau hidup. Banyak para wali, ketika mereka sakit berziarah ke Sayyidah Nafisah, bertawasul menyembuhkan penyakit hati atau penyakit badan. “Kau sendiri nampaknya sering ke sini, Nak?”

“Entahlah, kek, saya selalu merasa nyaman dan tenang di sini. Eh, tapi kok kakek selalu memanggilku ‘aris?” aku penasaran kenapa alasanku belum juga beliau terima.

“Istrinya gak dibawa?” Si kakek mencoba menggoda dan mencairkan suasana setelah percaya bahwa saya belum menikah.

“Nak, hidup ini memang ajaib,” kakek mengalihkan pembicaraan. “Ada orang shaleh mendapatkan pasangan yang kurang baik, ada lelaki yang kurang baik mendapatkan pasangan yang shalehah.”

“Lho, Kek, bukankah Alquran mengabarkan yang baik untuk yang baik, yang buruk untuk yang buruk, tapi baik buruknya menurut Allah, bukan menurut zahir yang kita nampak?” Aku menyela penjelasan kakek, sambil menguraikan pemahamanku terhadap ayat “al-khabisin lilkhabisat”.

“Bukan begitu maknanya, Nak. Kamu ini seperti sudah lupa pelajaran Balagah saja, ‘orang baik untuk yang baik’ itu bentuknya memang ‘khabar’, tapi maknanya adalah ‘insya; amr’, perintah. Jadi ayat itu maknanya, “hendaklah lelaki yang baik memilih perempuan yang baik.”

“Tapi tidak semua kita bisa memilih, Nak. Itu menandakan bahwa kita seorang hamba yang lemah. Kadang Allah uji seorang laki-laki dengan pasangan yang belum shalihah, agar ia perlahan mengajak, bersabar membimbing, karena perempuan seperti tulang yang bengkok, harus banyak sabar menghadapi perangai mereka yang sulit ditebak.”

“Tapi Nak, yang lebih penting, jika dirimu baik, siapa pun yang akan menjadi pasanganmu, entah shalihah atau belum, kau harus bersabar bersamanya, membimbingnya, sebab itu adalah sebaik-baik amal. Bukankan karamat wali yang paling besar adalah menunjukkan jalan kepada Allah? Maka cinta lelaki yang paling besar adalah menunjukkan kekasihnya jalan kepada Allah.”

Aku tertegun merenungi kalimat kakek yang masih coba kupahami kedalaman maknanya. Hingga lupa menanyakan nama kakek yang selalu kutunggu kedatangannya di minggu-minggu berikutnya.

Angin musim dingin Kairo bertiup sepoi-sepoi, dinginnya menembus tulang para pekerja yang sedang membersihkan halaman Masjid Sayyidah Nafisah, percakapan itu belum berakhir, harusnya akan ada pertemuan di minggu-minggu selanjutnya. Makanya, setiap hari Senin-Kamis, selalu kuusahakan pergi ke Masjid Sayyidah Nafisah, berharap bertemu si kakek…

-Min Khawatir, Kairo.

Rindu

​Namanya Juga Rindu

Puisi Syarif Hade 
Subuh tadi

Alam berbisik

Tentang rindu

Insan berselimut keanggunan

Yang keindahannya 

Dibalut hijab jingga

Di seberang benua sana
Namanya juga rindu

Tak kenal jarak

Tak kenal waktu
Namanya juga rindu

Ia terlalu jujur

Pada siapa hati tertuju
Namanya juga rindu

Kadang lupa usia

Tak jarang lupa kalau sudah berdua
Maka, merindulah

Bila itu masih halal buatmu

Kesejatian Lelaki

​Seorang lelaki menikahi perempuan yang sangat cantik. Ia sangat mencintainya. Kehidupan mereka sangat bahagia.

Hingga suatu ketika, si istri terkena penyakit kulit yang akan menghilangkan seluruh kecantikannya. Setiap hari, kecantikannya berkurang. Si istri tahu ia akan kehilangan seluruh kecantikannya.

Akan tetapi, si suami belum tahu kabar tentang penyakit istrinya, ia sedang bertugas di luar. Ketika perjalanan pulang, si suami kecelakaan yang membuat penglihatannya hilang. Ia buta.

Kedua pasangan ini melanjutkan kehidupannya seperti biasa, dengan penuh cinta, berhari-hari, berbulan-bulan. Sang istri kehilangan kecantikannya, bahkan berubah menjadi jelek dan si suami kehilangan penglihatannya.

Mereka tetap saling mencintai. Suami mencintai istrinya secinta-cintanya, memperlakukan sebaik-baiknya,  seperti tidak terjadi apa-apa. Begitu pula perlakuan istri kepada suami, hingga 40 tahun.

Hinga tiba saatnya si istri meninggal dunia. Si suami sangat sedih kehilangan kekasihnya. Ia terus menangis hingga selesai proses pemakaman. Dan orang-orang telah pulang ke rumah masing-masing.

Lalu si suami berdiri hendak pulang, tiba-tiba seorang lelaki memanggilnya;

“Hai Fulan, hendak kemana?”

Si suami menjawab, “hendak pulang ke rumah,”

Lalu lelaki itu menjawab dengan iba, “bagaimana kau hendak pulang sendiri, bukankah biasanya kau dibimbing oleh istrimu?”

Si suami menjawab, “aku sebenarnya tidak buta, aku berpura-pura buta agar tidak melukai istriku ketika aku tahu ia terkena penyakit, sebab sebelum sakit ia adalah sebaik-baik istri, aku takut melukainya karena sebab penyakitnya”.

***

Hatim Al-Asham merupakan salah seorang ulama besar yang wafat di Baghdad, Irak tahun 852 M atau 237 H. Sejatinya Hatim tidaklah tuli, hingga pada suatu hari, seorang wanita datang ke tempat Hatim untuk menanyakan sesuatu.
Tak dinyana, ketika melontarkan pertanyaannya di hadapan Hatim, belum selesai ia bertanya, wanita tadi tak kuasa untuk menahan kentutnya. Bunyinya terdengar jelas, hingga membuat ia salah tingkah dan terdiam. 

Di tengah kegalauan wanita itu, tiba-tiba Hatim berkata dengan suara keras,

“Tolong bicara yang keras! Saya tidam mendengar,”

Namun, yang bertanya justru bingung. Dalam kebingungannya, ia kembali dikagetkan dengan suara keras Hatim.

“Hai, keraskanlah suaramu, karena aku tidak mendengar apa yang kamu bicarakan,” teriak Hatim.

Wanita tadi kemudian menduga bahwa Hatim ini seorang yang tuli. Ia pun merasa sedikit lega, karena suara kentutnya tidak didengar Hatim. Suasana kembali menjadi cair. Ia pun kembali mengulang pertanyaannya.

Sejak saat itu, Hatim mendadak “menjadi tuli” dan bahkan ia melakukan hal tersebut selama wanita tadi masih hidup. Ya, demi menjaga perasaan dan kehormatan wanita itu, ia terus berpura-pura tuli selama 15 tahun.

***

NB:

-Lihatlah kisah lelaki sejati, yang selalu ingin menghargai orang lain. Apakah kita harus berpura-pura buta agar tak melihat aib orang lain? Atau apakah kita harus berpura-pura tuli agar tak mendengar aib orang lain?

-Lihatlah kisah lelaki sejati yang mencintai Tuhannya, orang yang tidak dikenalnya saja akan ia hormati dan ia jaga perasaannya, apalagi orang yang ia cintai.

-Kairo, terjemah dari berbagai sumber. 

Jumat, 2/12/16.

Kalimantan

Di sini; di desa yang dikelilingi hutan tropis pegunungan meratus, aku menghabiskan masa kecil.
.
Sangat bahagia; memancing ikan, mandi di danau, berburu buah-buahan hutan, menembak burung, hingga tersesat di rerimbun padi yang hanya setinggi pinggang orang dewasa.
.
Di sini, di desa yang dikelilingi aneka ragam tanaman unik; kami sekolah, belajar mengaji, bertemu dengan guru-guru hasil didikan alam yang bijak menakjubkan.
.
Di sini, di desa yang diperebutkan 3 provinsi karena kekayaan alamnya; kami bermain; petak umpet, layang-layang, gerobak sodor, singki, gasing, gambar, karet, batu, semuanya menyenangkan.
.
Di sini, di desa yang sekian ratus kilometer dari Ibukota Provinsi; masa kecil kami tak kenal listrik, jaringan hape, apalagi internet. Tapi kami tahu, bagaimana membuat lampu dari batang bambu, tidur dengan lampu teplok kemudian bangun dengan lubang hidung hitam karena asapnya, atau membaca buku di samping lampu sederhana dari api yang kadang membuat alis atau rambut kami terbakar, tak sadar saking asyiknya; satu-satunya hiburan kami selain bermain, hanyalah membaca.
.
Di sini, didesa kecil yang selalu indah; kami menghabiskan masa SD dengan teman2 berbeda suku, berbeda agama, kami belajar membaca, menghitung, menulis, menyanyi, lari, sepakbola, danlain sebagainya.
.
Hari ini, kami menyebar ke penjuru kota-kota Indonesia, bahkan dunia. Aku berharap, suatu saat kita berkumpul kembali; di ‘alam’ yang membesarkan kita, berbagi cerita dan petualangan yang menakjubkan. Untuk kemudian tetap menjaga kelestarian alam.
.
Kalimantan :*
Kairo, 24/3/2016 Pukul; 13.16

Mari berubah, Kawan!

“Aku memiliki banyak kebiasaan buruk, dan sering lalai dalam ibadah. Meskipun aku melaksanakan shalat, tapi aku tidak melaksanakannya berjama’ah. Aku tidak membaca qur’an kecuali hanya dibulan ramadhan. Aku tidak membaca dzikir-dzikir pagi dan sore, kulupakan semuanya.
.
“Aku sering begadang malam, sering terlambat, telat dengan janji. Aku banyak menghabiskan waktu hanya untuk membuka facebok. Dan aku meremehkan larangan melihat yang haram-haram. Inilah di antara beberapa kebisaan burukku.
.
Sejak bertahun-tahun aku mencoba merubah kebiasaan burukku ini. Tapi setelah sehari, dua hari, atau lebih sedikit, aku kembali gagal, dan kembali seperti semula. Hingga, semangatku untuk berubah sampai pada titik terendah, aku putus asa.
.
Tetapi, ada sesuatu yang menyadarkanku, yaitu; tidak shalat subuh berjamaah, bahkan kadang, tidak shalat pada waktunya.
.
Aku kemudian mengambil keputusan untuk selalu shalat subuh berjamaah. Aku siap mengorbankan apapun, yang penting aku bisa shalat subuh berjamaah.
.
Di sini, aku mulai berfikir, kenapa aku selalu sulit untuk shalat berjamaah? Oh, karena aku sering begadang malam. Tapi kenapa aku sering begadang? Oh, karena setelah makan malam, aku menghabiskan waktu berjam-jam untuk membuka facebook. Di sini, aku dapat benang merahnya.
.
Maka, setelah makan malam, aku ganti kebiasaan membuka facebook dengan membaca buku. Alhamdulillah, aku termasuk orang yang gemar membaca. Setelah beberapa saat membaca, datang rasa kantuk, dan akhirnya tertidur.
.
Sebab tidur cepat, aku bangun lebih pagi dan segar. Akhirnya aku bisa shalat subuh berjamaah di Mesjid. Iya, sesederhana itu.
.
Memang kadang, aku kembali tidur setelah bangun, maka aku buat hukuman setiap tidak shalat berjamaah, aku bersedekah 100rb misalnya. Setiap salat tidak tepat pada waktunya, 200rb. Memang berat, tapi harus begitu.
.
Akhirnya, aku bisa selalu melaksanakan shalat subuh berjamaah. Dan sesuatu yang paling banyak menolongku untuk shalat adalah: banyak berdoa dan memohon pertolongan pada Allah.
.
Tanpa kusadari, setelah membiasakan shalat subuh berjamaah, hidupku mulai berubah; Kebiasaan begadang, kuhilangkan. Berlama-lama di facebook, kukurangi. Sebab shalat berjamaah, aku bisa membaca quran setelah subuh, sepulang dari masjid aku membaca wirid subuh sambil jalan kaki. Dan meremehkan pandangan yang haram aku hindari, karena takut Allah akan menghalangiku shalat berjamaah sebab perbuatan haram itu.
.
Pada suatu hari, kawanku berkata; “sungguh, hidupmu telah berubah,”. Aku tidak pernah meniatkannya, aku hanya fokus untuk shalat subuh berjamaah.
***
Di dalam buku The Power Of Habit, karya Charles Duhigg, ada sebuah bab yang berjudul ‘pusat kebiasaan’. Bab ini membicarakan ada satu kebiasaan, yang berhubungan dengan kebiasaan-kebiasaan lain. Apabila kita ubah kebiasaan itu, maka berubahlah seluruh kebiasaan lainnya, seperti halnya shalat subuh di atas.
.
Tapi ia tak mesti harus shalat subuh. Ia bisa saja; merokok, banyak makan, atau mudah marah misalnya.
.
Orang yang mudah marah, banyak melahirkan kebiasaan buruk; berkata-kata keji misalnya, memutus tali silaturrahim, menyakiti orang lain dan lain sebagainya.
.
Suatu ketika, datang seseorang kepada Rasulullah SAW. “Ya Rasulullah, nashihati aku,” Rasulullah bersabda, “laa tahgdhab, jangan marah,”. Kemudian orang itu pulang. Beberapa waktu kemudian ia datang lagi kepada Rasulullah untuk meminta nashihat, dan jawaban Rasul tetap sama; “jangan marah”. Begitu berkali-kali.
.
Hadis yang dimasukkan Imam Nawawi dalam arbain nawawinya yang mencakup 42 hadis tentang ushul agama ini, menggambarkan bahwa Rasul, jauh sebelum Charles Duhigg, sudah mengetahui ‘pusat kebiasaan’ itu. Dan Rasul mencontohkan untuk mengubah kebiasaan dari ‘pusat’nya.
.
Kawan, carilah kebiasaan itu, jika ia baik, pertahankan. Jika buruk, ubahlah. Dan jangan lupa, mohon pertolongan Allah.

15/02/2016. 08.10
~’ainfathah.

Hati-hati Memilih Buku

Dahulu, para ulama menulis bukunya dengan peralatan seadanya, kertas seadanya, tinta seadanya bahkan dengan penerangan seadanya. Naskah yang ditulis dengan alat serba sederhana itu sering disebut “Makhtutat” atau manuskrip. Manusrip-manuskrip tersebut banyak tersimpan di perpustakaan al-Azhar, perpustakaan Nasional Damaskus, Riyadh, bahkan banyak juga di Leiden, London, Paris, Lebring dan Kota-kota besar eropa lainnya.
.
Naskah itu kemudian diserahkan kepada nassakh, tukang tulis ulang, yang sekarang setara dengan tempat fotokopy atau percetakan.
.
Pekerjaan nassakh ini, jangan dikira seperti percatakan jaman sekarang,  tinggal print, maka keluar naskah persis seperti yang ditulis oleh penulisnya. Nassakh menulis ulang naskah penulis, dengan tujuan untuk memperbanyak naskah, tapi tetap dengan menggunakan tinta dan kertas seadanya. Naskah yang ditulis nassakh itulah yang kemudian dijilid dan dijadikan buku, kemudian disebar dan dijual.
.
Karena nassakh ini seorang pekerja, maka bisa jadi ia tidak paham apa yang ia tulis. Ia hanya menulis ulang. Dengan sedikit kelalaian, bisa jadi huruf “ya” karena kurang titiknya berubah menjadi “ba”, huruf “ra” karena kelebihan titik berubah menjadi huruf “zai” dan seterusnya. Bahkan Karena ingin cepat selesai atau karena banyak yang harus ditulis, “La yasihhu” tertinggal menulis “La” menjadi “Yasihhu” yang artinya sangat bertolak belakang.
.
Contoh nyatanya, masih ingat kan cerita Tuma al-Hakim? Tuma al-Hakim adalah seorang tabib (dokter) yang dalam praktik pengobatannya hanya berdasar buku belaka. Suatu hari ia mendapati sebuah redaksi hadits berbunyi; “al-Habbah as-Sawda’ Dawaun’ LikulliDa’” . Namun Tuma al-Hakim mendapati huruf “ba” pada kata al-habbah dengan dua titik; menjadi “ya”, karena kemungkinan salah cetak, maka ia membacanya menjadi al-Hayyah as-Sawda’.
.
Tentu maknanya berubah total, semula makna yang benar adalah “Habbah Sawda” (jintan hitam) adalah obat dari segala penyakit”, berubah drastis menjadi “Ular hitam adalah obat bagi segala penyakit”.
Akibatnya, Tuma al-Hakim telah membunuh banyak orang karena “kebodohannya”, mereka
mati terkena bisa ular ganas yang ia anggapnya sebagai obat. Bahkan dalam versi lain, ia pun mati terkena bisa. Cerita ini dibuat syair diantaranya oleh Ibnu Hayyan an-Nahwi, yang menjadi mastal, perumpamaan bagi orang-orang yang belajar tanpa guru.
.
Karena banyak kesalahan seperti itu, maka muncullah sebuah disiplin ilmu baru, yaitu ilmu “tahqiq makhtutat”, biasa disebut Filologi, sering didefinisikan sebagai studi tentang teks-teks sastra dan catatan tertulis, penetapan dari keotentikannya dan keaslian dari pembentukannya dan penentuan maknanya.
Filologi juga merupakan ilmu yang mempelajari. naskah-naskah manuskrip. Karena manuskrip seringkali sulit untuk dipahami, tidak karena bahasanya yang sulit, tetapi karena naskah manuskrip disalin berulang-ulang kali. Dengan begini, naskah-naskah banyak yang memuat kesalahan-kesalahan.
.
Tugas seorang pentahkik atau filolog, nama untuk ahli filologi, ialah meneliti naskah-naskah ini, membuat laporan tentang keadaan naskah-naskah ini, dan menyunting teks yang ada di dalamnya. Ilmu filologi biasanya berdampingan dengan paleografi, atau ilmu tentang tulisan pada masa lampau.
.
Di zaman yang serba kekurangan itu, artinya kekurangan sarana yang mendukung seseorang menulis, banyak lahir penulis-penulis yang
karyanya masih dipakai sampai hari ini.
.
Seorang filolog, haruslah orang yang mempunyai kejujuran dan amanah ilmiah. Seorang filolog yang amanah, tidak boleh mengubah apapun yang tertulis dalam manuskrip, bahkan jika salah sekalipun. Apalagi menghapusnya. Ia harus membiarkan persis seperti yang ditulis penulisnya.
.
Adapun jika memang naskah manuskrip itu salah, maka filolog memberikan isyarat di catatan kaki, atau memberi tanda dua kurung jika ada kalimat yang dirasa kurang.
.
Seorang filolog, juga haruslah orang yang mempunyai tsaqafah, pengetahuan yang luas. Ketika hendak mentahkik sebuah tulisan misalnya, ia haruslah membaca tentang penulisnya, dan buku-buku yang ditulisnya.
.
Seorang filolog, tidak boleh terburu-buru menyalahkan penulis, karena kadang, penulis memperbaiki kekurangan dan kesalahannya dalam buku yang ditulis selanjutnya .
.
Syaikh Abu Musa, yang digelari murid-muridnya sebagai Imam Jurjani masa kini, seorang ahli dan guru besar Ilmi Balaghah (Filsafat Sintaksis) sering memperingatkan untuk tidak terburu-buru menyalahkan ulama. Ungkapan masyhur beliau,
لا تسارع في إنكار العالم إلا بعد التراجع وتجتهد في أن تجد له تأويلا يصرفه عن الخطأ
.
Seorang filolog yang tidak amanah, biasanya sering memberikan komentar berlawanan yang cendrung menghujat buta penulisnya. Bahkan dalam beberapa kasus, menghapus isi teks manuskrip.
.
Dalam buku-buku hadist misalnya, banyak filolog yang menghapus potongan hadist yang menurutnya lemah. Padahal, ia harusnya cukup dengan memberi komentar, bukan menghapusnya.
.
Maka tugas kita sekarang semakin berat, bukan hanya harus teliti dalam memilih buku dan penulisnya, tapi juga harus teliti melihat filolognya.
.
Dalam buku-buku lughah misalnya, kita tidak akan ragu memilih buku-buku takhikan Syaikh Muhyidin Abdul Hamid, Abu Fihr Muhammad Mahmud Syakir, atau seorang Muhaqqiq perempuan, ‘Aisyah Bintu Syathi’. Dalam buku-buku hadist, Ada Syaikh Musthafa Abu ‘Imarah, Syaikh Nuruddin Itr, Dalam buku-buku Tauhid ada Syaikh Aly Jum’ah, Syaikh Musthafha Abu Zeid dan lain sebagainya, karena kita sudah tahu keamanahan mereka dalam menyampaikan ilmu baik lisan maupun tulisan.

Buku serial motivasi 2

Buku ini sangat menampar, khususnya bagi orang-orang yang malas menghafal dan mengulang pelajaran seperti saya.
.
Di Mukaddimah bukunya, Al-Hafidz Ibnul Jauzy, menerangkan bahwa salah satu kekhususan ummat Muhammad, adalah daya hafalnya, tidak ada ummat2 terdahulu yang hafal kitab sucinya, kecuali ummat Muhammad. Bahkan saking langkanya orang yang hafal jaman dulu, ketika Uzair mampu menghadirkan Taurat dari hafalannya, mereka berseru; “ini pasti anak tuhan!”. Lalu bagai mana dengan ummat kita, bukankah banyak anak berumur 7 tahun sudah mampu hafal al-Quran?
.
Kita juga melihat, betapa hanya ummat Muhammad,  yang perkataan nabinya diriwayatkan turun temurun dari mulut ke mulut dengan kekuatan hafalan tiada tanding.
.
Tapi masa itu telah berlalu, maka, ketika beliau melihat kemalasan mulai menghantui pemuda-pemuda muslim, beliau karanglah kitab yang luar biasa ini.
.
Diantara isinya di bab 4, bahwa ternyata kekuatan hafalan yang dihasilkan generasi-generasi sebelumnya, bukanlah karena kejeniusan yang luar biasa, tapi karena keuletan, kegigihan, kerjakeras, pantang menyerah dan lain sebagainya.
.
Diriwayatkan, bahwa Imam as-Shirazy, mengulang pelajarannya 100 kali, Al-kaya mengulang 70 kali, Imam Hasan al-Naisaburi, baru hafal setelah mengulang-ulang sebanyak 50 kali. Dan banyak lagi cerita-cerita ulama dalam menghafal ilmu dengan kesungguhan yang  menakjubkan.
.
Kemudian Imam Hasan bercerita, ada seorang faqih, yang selalu mengulang2 hafalan dirumahnya, saking seringnya ia menghafal, sampai-sampai seorang nenek tua di rumahnya mengaku hafal apa yang diulang2 oleh si Faqih, ketika disuruh mengulang, memang betul nenek tua itu mampu mengulang hafalan si Faqih. Tetapi, setelah hari berlalu, si Faqih meminta kembali nenek itu untuk menghadirkan kembali hafalannya, dan dia tidak mampu lagi menghafalnya. “Itulah sebabnya aku mengulang-ulang hafalan, ujar si faqih, agar aku tidak tertimpa oleh lupa yang menimpamu”.
.
Aduhai, adakah kita sudah mengulang-ngulang pelajaran?
.

اللهم ارزقنا حفظ القرآن والعلوم المهمة… يا رب

Di mana rumahmu, Nak?

Orang bilang anakku seorang aktivis. Kata mereka namanya tersohor di kampusnya sana. Orang bilang anakku seorang aktivis. Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah umat. Orang bilang anakku seorang aktivis. Tapi bolehkah aku sampaikan padamu Nak? Ibu bilang engkau hanya seorang putri kecil Ibu yang lugu.

Anakku, sejak mereka bilang engkau seorang aktivis, ibu kembali mematut diri menjadi seorang ibu aktivis. Dengan segala kesibukanmu, ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat. Ibu sungguh mengerti itu Nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia Nak? Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak, tanpa pernah ibu berpikir bahwa itu adalah waktu yang sia-sia.

Anakku, kita memang berada di satu atap Nak, di atap yang sama saat dulu engkau bermanja dengan ibumu ini. Tapi kini dimanakah rumahmu Nak? Ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini. Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmu di rumah dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu. Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut. Mungkin tawamu telah habis hari ini, tapi ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk Ibu yang begitu merindukanmu.

Ah, lagi-lagi Ibu terpaksa harus mengerti, bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk Ibu. Atau jangankan untuk tersenyum, sekedar untuk mengalihkan pandangan pada ibumu saja engkau engkau, katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline. Padahal, andai kau tahu Nak, Ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini, memastikan engkau baik-baik saja, memberi sedikit nasehat yang Ibu yakin engkau pasti lebih tau. Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau Nak, tapi bukankah aku ini ibumu? Yang 9 bulan waktumu engkau habiskan di dalam rahimku…

Anakku, Ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk Nak. Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib organisasimu, engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu. Engkau nampak amat peduli dengan semua itu, Ibu bangga padamu. Namun, sebagian hati Ibu mulai bertanya Nak, kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini Nak? Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu? Kapan terakhir engkau menyakan keadaan adik-adikmu Nak? Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota organisasimu?

Anakku, Ibu sungguh sedih mendengar ucapanmu. Saat enkau merasa sangat tidak produktif harus menghabiskan waktu dengan keluargamu. Memang Nak, menghabiskan waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat, tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan, Tapi bukankan keluargamu ini adalah tugasmu juga Nak? Bukankah keluargamu ini adalah amanahmu yang juga harus kau jaga Nak?

Anakku, Ibu mencoba membuka buku agendamu. Buku agenda sang aktivis. Jadwalmu begitu pada Nak, ada rapat di sana sini, ada jadwal mengkaji, ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting. Ibu membuka lembar demi lembarnya, disana ada sekumpulan agendamu, ada sekumpulan mimpi dan harapanmu. Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya, masih saja ibu berharap bahwa nama ibu ada disana. Ternyata memang tak ada Nak, tak ada agenda untuk bersama ibumu yang renta ini. Tak ada cita-cita untuk ibumu ini. Padahal Nak, andai engkau tahu sejak kau ada di rahum ibu, tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu selain cita dan agenda untukmu, putri kecilku…

Kalau boleh Ibu meminjam bahasa mereka, mereka bilang engkau seorang organisatoris yang profesional. Boleh Ibu bertanya Nak, dimana profesimu untuk Ibu? Dimana profesionalitasmu untuk keluarga? Dimana engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau buat?
Ah, waktumu terlalu mahal Nak. Sampai-sampai Ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama Ibu…

—

Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya. Pun pertemuan dengan orang tercinta, ibu, ayah, kakak, dan adik. Akhirnya tak mundur sedetik tak maju sedetik. Dan hingga saat itu datang, jangan sampai yang tersisa hanyalah penyesalan. Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu tuk diucapkan. Tentang rindu kebersamaan yang terlambat teruntai.

Untuk mereka yang kasih sayangnya tak kan pernah putus, untuk mereka sang penopang semangat juang ini. Saksikanlah, bahwa tak ada yang lebih berarti dari ridha mereka atas segala aktivitas yang kita lakukan. Karena tanpa ridha mereka, mustahil kau peroleh ridha-Nya.

Sumber: handbook panitia Kajian Islam Intensif Padmanaba 2012, KIIP Believing.

Wasathi di Tengah-tengah Takfiri

Saya pernah menulis status Facebook tentang kebiasaan saya membaca wirid salah satu asmaul husna sebanyak 129 kali setiap selesai shalat, selang beberapa menit kemudian ada sebuah komentar, “Lho, bukannya itu syirik ya? Kan Rasulullah tidak pernah mengajarkan harus membaca amalan dengan angka-angka tertentu?”

Saya hanya mengelus dada. Dahulu ketika di pesantren, hal semacam ini paling mentok dibilang bid’ah, tidak sampai mengkafirkan sesama muslim. Sungguh panjang lebar para ulama menjelaskan tentang masalah at-Tarku, hal-hal yang tidak dilakukan oleh baginda Nabi.

Iya, belakangan ini, paham takfiri dan suka menyalahkan orang lain mengalir deras di Indonesia, menyebar cepat melalui media sosial, selebaran-selebaran yang dibagi setiap jumat, bahkan sampai radio dan TV.

Padahal, Islam disebarkan ke Indonesia dengan santun, tetap menjaga kearifan lokal, atau bahasa lainnya; dengan manhaj wasathi. Iya, wasathi bukan hanya slogan Al-Azhar, tapi wasathi adalah setiap manhaj yang berdakwah mengedepankan hikmah dan nasihat yang baik; perilaku baik sebelum perkataan.

Melihat sejarah itu, rasanya tidak pantas lagi kita bertanya bagaimana cara mengaplikasikan paham wasathi di Indonesia, sebab ulama-ulama kita dahulu telah mencontohkannya. Buktinya, setelah 70 tahun Indonesia merdeka, belum ada kerusuhan yang murni disebabkan konflik agama, juga tidak ada perang saudara hanya karena rakyat mengkafirkan para pemimpinnya.

Berbeda dengan Bangsa Arab yang cenderung keras kepala dan hanya mau menang sendiri, masyarakat Indonesia sesungguhnya sudah berpaham wasathi, khususnya dalam prilaku keseharian. Bahkan di Barat, Indonesia dikenal dengan masyarakat yang ramah, murah senyum dan penuh toleransi.

Negara-negara teluk, sesungguhnya iri —dalam artian positif– kepada Indonesia, sebab dengan luas daerah yang sebesar itu, dengan ribuan suku dan bahasa, Indonesia tetap mampu menjaga kebersatuan, Bhinneka Tunggal Ika. Sedang mereka, hal-hal sepele pun hanya bisa diselesaikan dengan angkat senjata.

Manhaj washathi, ujar Syaikh Ali Jum’ah, adalah golongan yang bermadzhab fikih yang empat, berakidah Asya’irah dan Maturidiah, serta ber-tasawwuf Imam Junaid dan al-Ghazali. Di Indonesia mayoritas muslimnya bermadzhab Syafi’i berakidah Asy’ari, dan bertasawwuf al-Ghazali, artinya sejak dulu Indonesia sudah berpaham wasathi.

Melihat keadaan yang seperti itulah, ujar Pak Cecep Taufiqurrahman, MA. dalam sebuah seminar, para peneliti berpendapat bahwa kebangkitan Islam akan muncul di Indonesia. Maka, Amerika dan antek-anteknya tidak rela itu terjadi, sebab jika Islam bangkit dari Indonesia, banyak negara-negara yang harus rugi, sebab tak dapat lagi mengeruk hasil alam bumi pertiwi.

Maka dibuatlah huru-hara, mereka ingin ‘men-suriah-kan’ Indonesia, diantaranya, diberikanlah beasiswa sebanyak-banyaknya ke negeri-negeri barat, dibuka seluas-luasnya agar mereka mampu memasukkan pemahamannya ke Indonesia. Begitu juga ke negara-negara Syiah. Setiap tahun, mereka menelurkan ribuan sarjana. Maka bayangkan apa yang terjadi 5-10 tahun ke depan, kalau Indonesia didominasi oleh orang-orang yang berpaham terlalu ke kiri dan kanan ini.

Ini berbanding terbalik dengan negera-negara yang berpaham washathi seperti Mesir, Sudan, Yaman, Mauritania dan lain sebagainya, hanya sedikit mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di negara-negara tersebut, pun tertatih-tatih dengan biaya kehidupan sehari-hari.

Melihat masa depan yang demikian, rasanya kita perlu kembali menanamkan paham wasathi yang tidak ifroth (liberal) dan tidak tafrith (kaku, tekstual) yang sudah mulai pudar di Indonesia.

Terakhir, untuk lebih mengerti paham wasathi, saya akan menuliskan sebuah cerita guru saya yang telah menyelesaikan studinya di Darul Ifta al-Mishriyyah, Azka Fuady, Lc. Suatu ketika, ujar beliau, sepasang suami istri yang beragama Koptik datang ke kementrian agama untuk meminta proses perceraian, sebab sudah tidak ada lagi kecocokan jalan pikiran dan tujuan antara suami istri tersebut.

Masalahnya adalah, di agama Koptik, cerai adalah sesuatu yang diharamkan, sebab menurut agama mereka, sesuatu yang telah disatukan oleh Tuhan tak boleh dipisahkan oleh manusia. Maka bingunglah para pendeta sebab tidak menemukan solusi yang memuaskan kedua belah pihak.

Uniknya di Mesir, hubungan antara Islam dan Koptik sangat baik, erat. Bahkan hukum waris di Mesir ditetapkan menggunakan hukum islam, karena seorang perempuan Koptik yang mencari keadilan dalam pembagian harta waris. Setelah menanya sana-sini, hanya di Islamlah ia menemukan pembagian waris yang paling adil.

Maka, para pendeta itu pun melimpahkan pertanyaan tersebut ke Darul Ifta. Dalam Islam, sesungguhnya sangat mudah urusan ini, sebab bercerai, meskipun dibenci oleh Tuhan, ia tetap dihalalkan dalam agama. Lantas bagaimana jawaban Darul Ifta? padahal, menurut sebagian orang yang tergesa-gesa, yang belajar agamanya hanya setengah-setengah, ini kesempatan untuk mengislamkan seseorang. Sebab dengan masuk Islam, otomatis perceraian akan jatuh.

Tapi Darul Ifta melihat mashlahat yang lebih besar dari itu, mempunyai cara yang lebih menakjubkan, yang telah diajarkan oleh ulama-ulama terdahulu yang berpaham wasathi. Jawaban indah yang hanya lahir hasil belajar panjang dan perenungan yang matang.

“Kami tidak bisa menghukumi permasalahan dalam agamamu dengan dalil agama kami. Adapun dalam agama kami, Islam, perceraian tetaplah diperbolehkan, walaupun ia sesuatu yang paling dibenci oleh Allah.”

Jawaban yang indah. Tidak ada kata-kata paksaan. Tidak ada kalimat-kalimat yang menyindir ‘lawan’.

Dan orang Koptik itu pun memeluk Islam.

Kisah nyata semacam ini, sangat perlu kita renungi di zaman fitnah sekarang ini, di saat banyak orang sudah tidak mengindahkan berdakwah dengan dakwah wasathi, mudah mengkafirkan, fasih mencaci-maki, menyesatkan, mengklaim bid’ah, melaknat dan memfitnah. Seakan surga hanya dipesan oleh kelompoknya sendiri.

Ulama-ulama kita dahulu mati-matian menyebarkan Tauhid dan mengislamkan orang-orang kafir, namun sekarang, kenapa orang yang sudah Islam malah dikafir-kafirkan dan dituduh syirik? Bukankah kita hanya bisa menghukumi zhahir? Ketika seseorang telah ber-syahadat, berarti dia Islam. Kita sama sekali tidak diperintahkan untuk membedah dada setiap manusia agar mengetahui kadar keimanannya. Yang urusan bathin, kita serahkan saja kepada Allah.

Bukankah al-Qur’an telah mengisahkan ketika Nabi Musa dan Nabi Harun pergi mendakwahi Fir’aun, Allah berfirman, “maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia ingat atau takut.” (Q.S Thaha: 44)

Bayangkan, Fir’aun yang jelas-jelas kafir laknatullah, ketika berdakwah kepadanya, tetap diperintahkan untuk berdakwah dengan santun, lembut, tidak menyebut-nyebut kafir laknatullah. Maka di zaman kita sekarang ini, adakah orang yang lebih kafir daripada fir’aun? Atau lebih alim daripada Musa dan Harun? Lantas apalagi yang menghalangi kita untuk menyeru kebaikan dengan manhaj wasathi? Berdakwah dengan dakwah Qur’ani? Yaitu dengan hikmah, nasihat yang baik, atau berdiskusi dengan argumen yang kuat namun tetap santun, tidak ifroth ataupun tafrith.

Wallahu a’lam.

*berbagai sumber.

Cinta antara Beban dan Kebutuhan

Kau tahu, dek, betapa sakitnya ketika harus membunuh setiap cinta yang mulai tumbuh? Aduh, tentu saja jauh lebih sakit daripada ditusuk dengan belati berkarat bercabang empat.

Kau tahu, dek, pedihnya ketika harus menginjak-injak pucuk rindu yang mekar agar tak beranak-pinak, berkembang biak? Itu sungguh jauh lebih pedih dari luka yang tersiram air cuka.

Aduh, pahitnya, aku harus melakukannya setiap hari, dek, membunuh setiap cinta yang tumbuh, memangkas setiap pucuk rindu yang mekar.

Sebab, dek, sesuatu itu mempunyai waktu sendiri. Ada saat kita menginginkannya, ada saat kita membutuhkannya. Yang belum kita butuhkan, jika kita dapatkan, ia hanya menjadi beban.

Seperti seoarang dokter yang mendapatkan seluruh peralatan tukang, ia sama sekali tidak membutuhkannya –buat apa? Mau menyuntik pakai paku? Tidak kan?– ia justu menjadi beban, merepotkan.

Begitulah juga, dek, cinta yang datang tidak tepat pada waktunya, hanya memberatkan bahu, menjadi beban perjalanan.

Maka, dek, setiap kita punya waktu indahnya masing-masing, punya takdir spesialnya masing-masing, punya hari istimewanya masing-masing, tak perlu risau, apalagi cemas. Cukup berpeganglah dengan sabar dan berharaplah dengan do’a. Maka bila sudah tiba waktunya, tinggal tunggu keajaiban-keajaiban yang akan menyapa yang tak disangka-sangka.

#Senja, Al-Aqmar, The Great Street, 30/11/2015.
~’ainfathah.

Design a site like this with WordPress.com
Get started