Ziarah dan Petuah Jodoh
Ini keempat kalinya aku pergi ke Masjid Sayyidah Nafisah dalam sebulan. Tempat yang punya suasana khusus di hatiku, tempat yang selalu memberikan kedamaian.
Namun, sebenarnya bukan hanya suasananya yang bikin kangen. Tapi kehadiran seorang kakek paruh baya yang tiba-tiba memanggilku dengan, “Ya ‘aris” (hei pengantin baru)
Aku berkali-kali bilang bahwa aku belum menikah, tapi si kakek tetap saja memanggilku ‘aris’, ah, yasudah, aku akhirnya mengalah. Aku terima saja panggilan itu, siapa tahu si kakek sedang melihat masa depan. Barangkali si kakek sedang mengajariku majaz mursal; mengucapkan yang belum terjadi tapi maksudnya adalah hal yang akan dekat terjadi.
Perkenalan kami begitu cepat dan singkat, seperti tabiat orang Mesir kalau sudah kenal, maka seakan-akan sudah menjadi saudaranya, diajak bicara ke mana-mana.
“Kamu dari mana, Nak?”
“Dari Kalimantan, Kek, eh, Indonesia”
“Belajar di Al-Azhar?”
“Tentu saja, Kek. Kalau tidak, mana bisa saya berziarah ke tempat ini. Kakek sendiri dari mana?”
“Saya dari Suhaq. Mesir bagian selatan, sudah pernah ke sana?”
“Sudah sering diajak ke sana, Kek, tapi belum berani ikut… hehe”
“Suhaq dan selatan Mesir itu negeri yang damai, penduduknya sangat mencintai Rasulullah dan Ahlu bait, setiap bulan selalu ada majelis salawat.”
Kakek menggambarkan negeri yang nampaknya sangat ia cintai, aku tenang mendengar tuturnya yang sejuk.
“Makanya hampir setiap minggu selalu ada orang selatan Mesir yang berziarah ke makam Sayyidah Nafisah, bagi kami Sayyidah Nafisah adalah oase di tengah gersangnya gurun pasir, ia tabib yang menyembuhkan penyakit lahir maupun batin, sebagaimana ketika beliau hidup. Banyak para wali, ketika mereka sakit berziarah ke Sayyidah Nafisah, bertawasul menyembuhkan penyakit hati atau penyakit badan. “Kau sendiri nampaknya sering ke sini, Nak?”
“Entahlah, kek, saya selalu merasa nyaman dan tenang di sini. Eh, tapi kok kakek selalu memanggilku ‘aris?” aku penasaran kenapa alasanku belum juga beliau terima.
“Istrinya gak dibawa?” Si kakek mencoba menggoda dan mencairkan suasana setelah percaya bahwa saya belum menikah.
“Nak, hidup ini memang ajaib,” kakek mengalihkan pembicaraan. “Ada orang shaleh mendapatkan pasangan yang kurang baik, ada lelaki yang kurang baik mendapatkan pasangan yang shalehah.”
“Lho, Kek, bukankah Alquran mengabarkan yang baik untuk yang baik, yang buruk untuk yang buruk, tapi baik buruknya menurut Allah, bukan menurut zahir yang kita nampak?” Aku menyela penjelasan kakek, sambil menguraikan pemahamanku terhadap ayat “al-khabisin lilkhabisat”.
“Bukan begitu maknanya, Nak. Kamu ini seperti sudah lupa pelajaran Balagah saja, ‘orang baik untuk yang baik’ itu bentuknya memang ‘khabar’, tapi maknanya adalah ‘insya; amr’, perintah. Jadi ayat itu maknanya, “hendaklah lelaki yang baik memilih perempuan yang baik.”
“Tapi tidak semua kita bisa memilih, Nak. Itu menandakan bahwa kita seorang hamba yang lemah. Kadang Allah uji seorang laki-laki dengan pasangan yang belum shalihah, agar ia perlahan mengajak, bersabar membimbing, karena perempuan seperti tulang yang bengkok, harus banyak sabar menghadapi perangai mereka yang sulit ditebak.”
“Tapi Nak, yang lebih penting, jika dirimu baik, siapa pun yang akan menjadi pasanganmu, entah shalihah atau belum, kau harus bersabar bersamanya, membimbingnya, sebab itu adalah sebaik-baik amal. Bukankan karamat wali yang paling besar adalah menunjukkan jalan kepada Allah? Maka cinta lelaki yang paling besar adalah menunjukkan kekasihnya jalan kepada Allah.”
Aku tertegun merenungi kalimat kakek yang masih coba kupahami kedalaman maknanya. Hingga lupa menanyakan nama kakek yang selalu kutunggu kedatangannya di minggu-minggu berikutnya.
Angin musim dingin Kairo bertiup sepoi-sepoi, dinginnya menembus tulang para pekerja yang sedang membersihkan halaman Masjid Sayyidah Nafisah, percakapan itu belum berakhir, harusnya akan ada pertemuan di minggu-minggu selanjutnya. Makanya, setiap hari Senin-Kamis, selalu kuusahakan pergi ke Masjid Sayyidah Nafisah, berharap bertemu si kakek…
-Min Khawatir, Kairo.
