Syaikh Muhammad Abu Zahrah

by ainfathah19

abu zahrah

Syaikh Muhammad Abu Zahrah, Mujtahid dan Mujaddid Abad XX

Sore itu di sebuah percetakan, saya ditegur karena sebuah buku yang saya baca. Bukan karena isi buku itu sesat, tapi ‘hanya’ karena di sampul buku itu terdapat gambar si penulis yang ‘tidak berjenggot’. Si pemilik percetakan yang berjenggot dan mengenakan gamis sedikit di atas mata kaki, lantas memberi nasihat.

Ngapain membaca buku itu, lihatlah penulisnya saja telah menyalahi sunnah, dia telah mencukur jenggotnya’’.

Padahal buku yang saya baca adalah buku karya seorang alim mausu’i yang tidak hanya memutuskan sebuah hukum berdasarkan jenggot, tapi dengan mengumpulkan berbagai dalil di meja redaksinya, memadukannya dengan wajhu ad-dilalah (orientasi dalil) untuk kemudian memutuskan sebuah hukum. Beliau adalah Imam pada zamannya, Muhammad Abu Zahrah.

Beliau lahir 29 Maret 1898 M di al-Mahalla al-Kubra, salah satu daerah di Provinsi al-Garbiyah, bagian barat Mesir. Masa kecilnya dihabiskan untuk mempelajari keilmuan dasar Islam. Maka sejak kecil pula ia telah hafal kitab suci.

Abu Zahrah kecil terus melangkah maju menumbuhkembangkan kualitas intektualnya. Pada usia 15 tahun, ia menimba ilmu di sekolah Ahmadi di Thanta yang notabenenya adalah manarah ‘ilmi yang menelurkan ulama-ulama mumpuni, sehingga, sekolah ini juga bergelar al-Azhar ats-Tsani.

Setelah tiga tahun, beliau melanjutkan petualangan intelektualnya ke sekolah al-Qadha al-Syar’i, sekolah yang didirikan oleh ‘Atif Barakat yang melahirkan banyak hakim dan ahli fikih. Beliau belajar dengan tekun selama delapan tahun, akhirnya pada tahun 1924 beliau berhasil meraih gelar al-‘Alimiyyah sebagai lulusan tercepat dan termuda.

Antusiasnya terhadap ilmu terus mendorongnya untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Tahun 1927 ia berhasil menggondol gelar diploma dari Darul ‘Ulum, Kairo.

Dengan gelar yang diraihnya, ia mengajar Bahasa Arab di Ma’had al-Azhar. Enam tahun kemudian, beliau ditunjuk menjadi dosen pengampu mata kuliah al-Khitabah wa al-Jidal di Fakultas Ushuludin al-Azhar. Tahun 1935 beliau dipercaya menjadi dosen Dirasah ‘Ulya.

Karena keahliannya dalam menyampaikan materi khutbah, Universitas Kairo menariknya untuk mengajar materi khutbah di fakultas hukum. Selang beberapa waktu, beliau kemudian dipercaya mengampu mata kuliah syariah Islam. Di sinilah beliu berkenalan dengan para ulama mumpuni seperti Ahmad Ibrahim Bek, Ahmad Abu al-Fath, Muhammad Faraj al-Shanhuri yang merupakan ulama sekaligus pemikir di zamannya. Interaksi dengan orang-orang itulah yang memupuk kehidupan intelektual Abu Zahrah. Tahun 1957 beliau menjadi dekan fakultas hukum.

Pada tahun 1962 beliau terpilih menjadi anggota Majma’ al-Buhust al-Islamiyah, salah satu lembaga tinggi di bawah naungan al-Azhar yang menghimpun ulama dan pakar di berbagai bidang. Selain itu beliau juga mendirikan Ma’had Dirasah al-Islamiyyah, sekolah yang menampung orang-orang yang tak sempat belajar agama. Beliau mengajar tanpa memungut uang sepeserpun.

Disamping mengajar, beliau juga aktif menulis buku. Bukunya yang berjudul ‘al-Khitabah’ merupakan buku pertama yang hanya membahas khutbah secara terpisah. Tak kurang 80 karangan beliau dari berbagai disiplin ilmu menghiasi khazanah keilmuan Islam. Delapan diantaranya merupakan biografi tokoh-tokoh Islam seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam as-Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal.

Beliau juga memiliki banyak karangan di berbagai bidang, antara lain; Khatam an-Nabiyyin dalam sirah (3 jilid) Zahrah at-Tafasir, Mu’jizat al-Kubra (10 jilid) di bidang tafsir, al-Aqidah al-Islamiyyah Kama Ja’a biha al-Quran dalam bidang teologi, Muqaranah al-Adyan, Muhadarat fi an-Nahsraniyyah, al-Alaqat ad-Dauliyyah fi al-Islam dalam perbandingan agama, Ushul al-Fiqh, al-Ahwal al-Syaksiyyah, Mudzakarat fi al-Waqfi dalam bidang Fikih dan ushulnya. Dan masih banyak lagi.

Artikel-artikel beliau juga dimuat di majallah al-‘Arabi, diantanya artikel yang berjudul Ibn Hazm dan Ibn Taimiah yang menjadi cikal bakal buku-buku beliau.

Akhirnya setelah mengkhidmatkan diri dan menerangi masyarakat Islam dengan lentera ilmu, pada jumat 29 Maret 1974, beliau menemui tuhannya ketika menulis tafsir surah an-Naml ayat 19 yang berbunyi, “Maka tersenyumlah Nabi Sulaiman mendengar kata-kata semut itu, dan berdoa; Duhai Rabbku, ilhamkanlah daku agar tetap bersyukur atas nikmatMu yang Engkau karuniakan kepadaku dan kepada ibu bapakku, dan agar aku tetap mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai; dan masukkanlah daku –dengan limpahan rahmatMu- dalam kumpulan hamba-hamba-Mu yang shalih”.

Beliau pergi dengan meninggalkan karya-karya keislaman yang begitu penting bagi generasi kita dan seterusnya. Keikhlasan beliau dalam berkhidmat untuk ilmu dan menghargai waktu membuat karya-karyanya dirujuk di seluruh dunia dan diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa. Selain memang karena karya beliau luar biasa.

Syaikh Abdul Muiz Abdul Hamid al-Jazar, ketua lembaga riset dan keilmuan al-Azhar tahun 2000, memberikan catatan tentang karya intelektual Syaikh Abu Zahrah. “Karya ilmiah dan tulisan-tulisan beliau tergolong spektakuler dan monumental sesuai dengan usaha dan keluasan ilmunya”.

Advertisements